Sudah Siapkah?

Sebagai manusia normal, memasuki usia 20-an ke atas, sudah pasti pernah terlintas dipikiran kita mengenai sosok jodoh yang nantinya akan menjadi pendamping hidup. Siapa ya nanti jodohku? Seperti apa? Kapan ya dia datang? Bagaimana Allah mempertemukan kami? Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain terlintas dipikiran kita.

Karena saya wanita, saya akan berbicara dari sudut pandang seorang wanita. Sebagai seorang wanita, kita pastinya nunggu aja ya gaes siapa kelak yang berani datang ke rumah untuk melamar. Lelaki keren bukan yang beli bunga lalu nembak si cewek untuk jadi pacarnya. Lelaki keren adalah yang berani datang ke rumah bertemu orang tua kita untuk melamar. Ya gak? 

Sembari menunggu, ya kita juga harus mempersiapkan diri kearah itu. Banyak baca buku atau artikel bagaimana berumah tangga yang baik dan harmonis, kiat menjadi istri yang diidam-idamkan pokoknya rumah tangga yang sakinah-mawaddah-warahmah. Lebih lanjut boleh dari sekarang belajar ilmu parenting dan bahkan cara mengatur keuangan rumah tangga nantinya. Kan enak kalo tiba-tiba ada yang ngelamar, kita sudah punya persiapan yang matang. Jodoh kan siapa yang tahu. Bisa saja beberapa bulan kedepan ada yang datang melamar, atau bulan depan mungkin, bahkan besok bisa. Kalau Allah merasa kita sudah pantas, insha Allah Dia akan mengirimkannya untuk kita. Memantaskan diri dululah dalam segala hal pokoknya dan terus berdoa.

Dear calon imamku,
Untukmu yang masih Allah rahasiakan sosoknya. Aku sebenarnya kadang bertanya-tanya, kapan kamu datang kepadaku? Sudah dekatkah perjalananmu kearahku? Atau apakah kamu masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya? Tapi dengan segala pertanyaan itu, kadang saya juga mikir gini..sudah siapkah saya dengan kehadiranmu? Bisakah saya mengemban tanggung jawab itu? Menjadi seorang istri bahkan nantinya menjadi seorang ibu? Sungguh tak semudah membalikkan telapak tangan bukan? Jangan sampai pengen cepat-cepat nikah hanya karena melihat teman-teman udah pada nikah. Yang pastinya saya terus belajar disini sampai tiba suatu hari nanti kamu datang dan saya sudah siap mendampingimu dengan cara terbaikku.

Saya ingin pada saat kamu datang nanti, kita sudah sama-sama siap. Dewasa menyikapi masalah. Kamu bisa menenangkanku disaat saya kalut, pun sebaliknya. Bisa menjadi tempat yang nyaman satu sama lain. Jika ada masalah, diselesaikan dengan baik bukan dengan emosi. Dan belajar saling memahami satu sama lain. Mari kita memantaskan diri bersama, kelak kalau sudah selaras kita kan dipertemukan-Nya.

Komentar