Pembelajar Seumur Hidup



Tadi, chat lagi bareng adik lelakiku. Dia sekarang sudah kelas 1 di MAN (Madrasah Aliyah Negeri). Udah besar aja tuh bocah padahal masih ingat dulu selalu ayunin dia,hehee. Pun suatu waktu saya pasang foto bareng dia di DP BBM, salah satu teman SD nge-chat dan menanyakan  apakah itu adik saya? Saya jawab iya, dan saya tanya kenapa? Terus katanya temanku, dia masih ingat banget dulu waktu kita SD, kalau datang ke rumahku dia masih ingat katanya nenekku ayunin adikku ini. Sekarang udah besar aja. Yaiyalah masa’ kecil terus,hehee. Waahh berarti saya emang udah makin tuiirr dewasa  yaaa.

Kalau chat bareng dia kadang gimana gitu yaaa, hemmm…maklum ababiiiilll. Kalau tulisan sebelumnya kami lucu-lucuan bareng, tadi tuh sedikit lebih serius. Saya nasehatin dia,hihihi. Sebagai kakak, ya saya pikir nih bocah harus diberi nasihat sekali-kali yakkk. Nasihat tentang kehidupan karena saya berharapnya supaya dia tidak terlalu kekanak-kanakan dan bisa lebih dewasa sedikit cara berpikirnya. Apalagi kan dia anak satu-satunya laki di keluarga kami. 

Adikku ini adalah tipe-tipe yang bisa dibilang agak beda dari anak seusianya. Biasanya kan kalo anak cowo tuh kalau udah usia-usia SMA kan mainnya pasti lebih banyak di luar bareng teman-temannya. Nah, dia ini tidak. Sejak SMP malah temannya gak banyak. Kalau main pun biasanya sama anak tetangga yang usianya lebih muda dari dia. Kalau soal kenakalan, dia bukan tipe-tipe anak yang ‘nakal’. Tapi kalau di rumah suka bertingkah juga. Sejauh ini gak pernah terlibat pertengkaran di sekolah bareng temannya. Sejauh yang saya tahu sih. Dia ini lebih ke tipe-tipe manja. Yaa, mungkin karena satu-satunya anak cowo dan jarang keluar rumah juga. Paling  kalau keluar main sama tetangga sebelah, gak pernah yang jauh-jauh amat. Tapi ini juga, jadinya dia lebih childish. 

Soal pelajaran, dia juga rada-rada cuek. Gak bego-bego amat sih tapi lebih kepada malas baca. Dia nyentuh buku kalau ada PR aja. Hemmm.. padahal kalau menurut saya dia ini harus banyak baca buku. Buku apa saja terutama buku motivasi atau semacam buku perjalanan hidup seseorang yang dengan kerja keras dia bisa menggapai impiannya. Yang  bisa memberikan gambaran padanya bahwa hidup itu seperti ini loh. Perlu usaha dan kerja keras untuk mencapai sesuatu. 

Saya tadi bilang padanya bahwa manusia itu adalah pembelajar seumur hidup. Jangan malas belajar karena tak ada seorang pun yang bodoh di dunia ini kecuali kalau malas belajar. Rajin baca, jaga dan perbaiki sikap, dan lain-lain yang intinya supaya dia lebih baik kedepannya. 

Kita sebagai manusia memang adalah pembelajar seumur hidup. Walaupun saya pernah mendengar orang mengatakan bahwa guru adalah pembelajar seumur hidup. Tapi menurut saya bukan hanya guru tetapi manusia adalah pembelajar seumur hidup . Apalagi ilmu terus berkembang. 

Selama kita masih hidup maka selama itu pula kita harus belajar. Belajar apa saja. Karena semakin kita belajar maka semakin kita tahu bahwa masih banyak  hal-hal yang ternyata kita belum tahu. Ayat pertama saja yang turun Tuhan mengatakan “Bacalah” . Bacalah dalam arti luas kita harus membaca alam semesta ini beserta hal-hal yang terdapat didalamnya. Menggali apa yang ada didalamnya. Dengan apa? Ya dengan ilmu, dengan belajar.

Nah, jika sudah mempunyai ilmu yang mumpuni jangan berbangga diri. Ilmu yang tinggi jika tidak dibarengi dengah sikap yang baik, yang rendah hati sama saja bohong. Istilahnya kali nol. 
Dalam bersikap pun perlu ilmu. Bergaul dengan orang lain perlu ilmu.  Lagi-lagi soal ilmu. Belajar memahami karakter tiap orang. Kita harus tahu mana perkataan yang baik dan perkataan yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Apalagi tiap orang interpretasinya kadang beda. Memang sudah menjadi kewajiban kita sesama muslim untuk saling mengingatkan jika salah. Tapi jangan sampai perkataan kita malah membuat orang lain tersinggung. Tegurlah secara sopan. Tegurlah dengan melihat kondisi terlebih dahulu. Kalau langsung nyerocos waduuhhh. B.E.R.A.B.E.

Diberbagai profesi terlebih lagi perlu ilmu. Dokter harus berilmu supaya tidak malpraktik. Dosen/guru apalagi yang memang tugasnya memberi ilmu. Apa yang mau diberikan kalau mereka sendiri tak berilmu. Petani butuh ilmu cara menanam yang baik agar bisa panen yang banyak. Pilot butuh ilmu supaya tidak salah arah dan membawa penumpang ke tempat tujuan dengan selamat. Nelayan perlu ilmu menangkap ikan. Penyanyi perlu teknik vokal yang baik agar bisa menghibur, ibu rumah tangga pun sangat penting memiliki ilmu untuk membangun keluarga yang harmonis dan profesi-profesi lainnya yang kesemuanya membutuhkan ilmu.

Jadi, ilmu itu memang sangat penting dan cara mendapatkannya yaitu dengan belajar :-)

Komentar