Dulu, dulu sekali ketika hatiku condong
kearahmu. Ada harapan, mimpi, cita, dan pastinya cinta. Segalanya terasa indah
lepas ketika terbayang olehmu. Walau sesungguhnya aku yang menciptakan rasa
ini. Tapi aku tak bisa menolak hatiku yang memilihmu. Bisa apa aku? Aku tak
bisa memungkiri rasa yang ada. Hanya bisa mengelola rasa tanpa bisa meredamnya.
Aku tak berdaya. Aku terpikat. Dan pastinya aku bahagia.
Aku tahu sesungguhnya kau kurang tepat jadi
objek indraku. Tapi aku tetap saja menjadikanmu fokus utama. Aku hanya
mengikuti kata hatiku yang condong kearahmu. Aku tahu konsekuensi apa yang akan
kudapat. Tapi kan yang tahu cuma aku dan Tuhan saja. Aku tak merepotkan
siapa-siapa, bahkan kamu pun tidak.
Ahh, tapi mungkin saja dulu kamu tahu. Aku
tak yakin kalau kamu tak tahu. Waktu dimana kita masih berada pada jalur yang
sama. Inilah yang sebenarnya sedikit aku sesalkan selama ini. Kita tak pernah
berbicara sedikitpun soal rasa. Terkadang gelisahku terjawab oleh mimpi. Mimpi
yang entah aku tak tahu apakah sebuah jawaban atau sekadar bunga tidur. Entah
kamu bagaimana. Tapi tingkah laku tak bisa berbohong, kan?
Kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya langkah
yang kita ambil sudah tepat dengan ending
yang terjadi saat ini. Perfect. Hanya
sajaaa,…ahh sudahlah. Engkau hadir untuk membuatku belajar baaaaaanyak hal.
Terima kasih. Kamu adalah kado pembelajaran indah yang Allah titipkan padaku.
Cara Allah mendewasakanku.
Betul saja, Tuhan memberi apa yang kita
butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dia tahu yang terbaik buat hamba-Nya.
Teruslah mendekat dan kado-kado istimewa akan kau dapatkan dari-Nya. InshaaAllah.
Komentar
Posting Komentar