Jadi, Salahnya Hati? #CelotehHati



Bukankah sudah kubilang jangan menyimpan rasa terlalu dalam? Begini kan? Tapi mau bagaimana lagi kalau hati ini sudah begitu dalamnya menyimpan rasa? Mau menyalahkan siapa? Hatikah? Atau pintu gerbang hati yang membiarkan rasa ini masuk? Ataukah penjaga pintu gerbang hati yang tak menilik siapa yang akan masuk? Haruskah dikroscek dulu siapa yang bakalan masuk? Jadi, sekarang salahnya siapa? Sudahlah, tak usah mencari siapa yang salah! Pikirkan saja bagaimana membuat hati kembali tenang. Tentram. Ceria. Bahagia. Kalau begitu apa yang bisa membuat hati bahagia? Nah, pikirkan. Itu yang harus kamu pikirkan.

Aku sudah memikirkan, tapi tak kutemukan jawabannya. Pikirkan lagi. Kamu harus membuat hati bahagia seperti dulu lagi. Dengan cara apalagi? Hati tak juga menjawab pertanyaanku. Setiap kulontarkan pertanyaan itu, ia tak kunjung menjawabnya. Hanya diam dan diam. Menyepi. Sendiri. Nah, bagaimana kalau kamu saja yang membujuknya. Aku? Hatiku saja tak karuan bagai benang kusut. Nah, bagus. Kalian punya kesamaan. Feel-nya dapat. Kamu bisa memahami apa yang dia rasakan. Pun sebaliknya. Berbagi satu sama lain. Baik, akan kucoba.

Hati, haa…ti, H..A...T…I…. Ada apa dengan hati? Aaarrrrggghhhhh, aku pusing. Terbuat dari apa hati itu? Bahan lembut selembut apa yang paling lembut di jagad ini? Atau keras, sekeras apa yang paling keras di jagad ini? Sehingga terdiri dari dua sisi layaknya mata uang. Hentikan, hentikan semua celotehan tentang hati. Takkan ada habisnya. 

Sudahlah, hanya hati yang bisa menyembuhkan lukanya. Oh ya? Kenapa? Hanya hati yang bisa mengatur setiap inci detail perasaannya. Aku rasa begitu. Aku sudah pulih dari kekacauan hati. Keisengan rasa yang mempermainkanku. Dan aku bisa karena mau. Aku bisa seiring berjalannya waktu. Aku menang. Tak lagi dipermainkan rasa. Waktu. Ya, waktu bisa menyembuhkan perlahan-lahan. Kalau begitu hati bisa mengatasi semuanya. Ya, aku pikir begitu. Kemarin kulihat hati menyunggingkan senyum. Baguslah. Aku turut bahagia mendengarnya. Kalau begitu urusan beres. Satu pesanku, hati-hati saja menjaga hati. Mudah rapuh. Sulit utuh. Akan kujaga. Terima kasih.

Komentar

  1. Itulah makanya aku ga pernah kasih porsi HATI trlalu besar. Cukup 40% Dan sisanya untuk LOGIKA ;) . Daripada ntr sakit HATI dan susah sembuhnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good job :D mksih udah berkunjung yaaaa :-)

      Hapus

Posting Komentar