Sejak resign dari
tempat kerja akhir Juni lalu, saya cuti dari ‘kesibukan’. Yang dulunya
waktu masih kerja, pukul 06.30 atau 06.45 saya sudah harus berangkat ke sekolah
mengajar. Siang harinya setelah ngajar lanjut masuk kerja shift-an di kantor.
Pulangnya pukul 20.30 dan sampai di rumah pukul 21.00 kadang juga lewat. Tapi
mengajar di sekolah cuma 3 kali seminggu jadi yang full capeknya itu ya di
hari-hari tertentu juga. Tapi walaupun nggak ngajar tetap harus masuk kantor
jadi ya begitulah. Belum lagi kalau besoknya ngajar harus mempersiapkan materi
dulu malam sebelumnya. Nanti pas weekend barulah istirahat total di rumah atau
kalau bosan jalan bareng teman. Capek?
Pastinya. Tapi dinikmati sajalah, semua ini juga rezeki yang harus disyukuri
dari Tuhan. Masih banyak orang yang mau kerja tapi belum dapat-dapat juga.
Setelah resign di
kantor, ngajar di sekolah masih jalan sampai sebelum ramadhan. Awal ramadhan
bersamaan dengan berakhirnya ujian siswa, jadi sekolah libur. Nah saya sudah
memasuki masa-masa cuti, hehee. Resign dari tempat kerja plus sekolahan juga
libur. Saya pun pulang ke kampung halaman tercinta di kab. Bone. Berkumpul
bersama keluarga dan menikmati bulan ramadhan bareng keluarga. Duhh…nikmatnya.
Apalagi semenjak kuliah dan kerja di Makassar jarang berpuasa bareng keluarga.
Nanti kalau menjelang lebaran barulah saya pulang ke kampung halaman.
Selama bulan
ramadhan, saya betul-betul menikmati hari tanpa kesibukan. Yang dulunya berada
di luar rumah dari pagi sampai malam, ketika bulan puasa, berada di dalam rumah
dari pagi sampai malam. Setelah
lebaran, kembali ke Makassar untuk kerja. Tapi sudah tidak ngajar di sekolah
lagi karena waktu itu saya memang cuma mengganti guru yang sedang sakit di
sekolah itu. Tapi lumayan lama juga saya di sekolah itu, kurang lebih setahun.
Lumayan nambah pengalaman dan nambah uang saku,hehee.
Jadi, setelah
lebaran saya mencoba memasukkan lamaran di sebuah sekolah swasta. Setelah
mengikuti serangkaian tesnya, alhamdulillah saya diterima. Sisa tanda tangan
kontrak. Bahkan secepatnya disuruh untuk tanda tangan kontrak karena lagi butuh
tenaga pengajar.
Hemm, jadi sekarang ngajar di sekolah swasta
itu? Jawabannya TIDAK
Kok bisa? Yahhh saya
dilema pada waktu itu karena ada rencana mau daftar CPNS di luar daerah
Sulawesi Selatan. Saya berencana mendaftar di salah satu kabupaten di Sulawesi
Tenggara. Setelah menimbang, membungkus, dan menjual #uppss salah maksudnya
setelah memikirkan matang-matang saya memutuskan tidak jadi mengambil tawaran
tersebut. Padahal pihak yayasan di
sekolah tersebut sudah sangat memberikan keringanan kepada saya dengan syarat
yang saya ajukan sebelum kontrak, seperti: kontrak yang seharusnya dua tahun
saya cuma di kontrak setahun dan berbagai keringanan-keringanan lain yang
diberikan kepada saya. Saya jadi terharu :-)
Tapi yah waktunya
bersamaan dengan pendaftaran CPNS dan saya memutuskan untuk fokus dulu CPNS tahun ini. Saya juga harus ke tempat
dimana saya akan mendaftar untuk mengurus segala sesuatunya. Doakan teman-teman
semoga saya lulus CPNS tahun ini. Aaamiiiiiinnnn.
Nah, inikah rasanya tidak sibuk disini yang
saya maksudkan ketika saya hanya tinggal di rumah. Tidak ada tuntutan kerja yang
mengatur setiap harinya. Berarti inikah
rasanya tidak sibuk part I itu
ketika bulan puasa kan ya karena saya hanya tinggal di rumah, hehee. Sekarang saya berada pada fase inikah rasanya tidak sibuk part II *pffttt…kok
bahasanya kayak ribet gini*. Mengapa? Karena itu tadi, tidak ada tuntutan kerja yang
mengatur. Saya sekarang jadi anak rumahan dulu. Tinggal di rumah tante tempat
saya mau daftar. Ya, sekarang saya ada di provinsi tetangga sebelah, Sulawesi
Tenggara sambil ngurus persiapan CPNS ini.
Trus, gimana sih rasanya tidak sibuk?
Hemm, gimana ya?
Yang pastinya tidak secapek pada saat kerja. Tapi itu ya rada-rada bosan. Kalau
masalah bosan, semua ada bosannya sih. Waktu kerja kadang bosan juga dengan
rutinitas yang itu-itu saja. Ehh pas sudah gak kerja bosan karena lebih banyak
di rumah. Jadi, maunya apppaaaaaa? teriak
pake mikrofon masjid .Yang jelas semuanya bergantung pada kita. Kalau sering
ngeluh ya ribet dan ujung-ujungnya gak bersyukur *astagfirullah, tapi kalau
dinikmati ya enjoy ajaaa.
Jadi, saya kadang
berpikirnya seperti ini: apapun yang
saya jalani saat ini semua adalah atas izin Allah selama yang saya lakukan
tidak melenceng dari apa yang diperintahkan. Saya sudah pernah merasakan yang
namanya sangat sibuk, setengah sibuk, bahkan tidak sibuk sama sekali. Dan saya
pun jadi tahu akan hal itu.
Sekarang pilih
mana….
1. Sangat sibuk?
2. Setengah sibuk?
3. Tidak sibuk sama sekali?
1. Sangat sibuk?
2. Setengah sibuk?
3. Tidak sibuk sama sekali?
Kalau saya lebih
memilih yang kedua. Maksudnya ya tidak
sibuk-sibuk amat dan tidak santai-santai amat juga. Intinya yang sedang-sedang
saja. Benar saja yang dikatakan-Nya bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak
baik (Al-A’raf : 31)
Kalau kalian
berada pada fase mana niiihhhh???
Komentar
Posting Komentar