Dingin
malam ini menjalar ke relung sukma jiwa yang terdalam. Aku masih terbaring di sebuah kamar berukuran 4 x 4 m.
Membungkus seluruh badan hingga merasakan sedikit kehangatan. Kehampaan relung
hatiku kian menambah derajat dinginnya suasana malam ini. Ketika mengingat kembali aktivitas-aktivitas yang
kulakukan di siang hari, bibirku menyunggingkan
senyuman.
Ya,
sebulan terakhir ini aku merasa antusias berangkat ke kantor tempatku bekerja.
Entah kenapa, tapi selalu ada semangat membara ketika kulangkahkan kaki menuju
tempatku bekerja. Mungkin juga ini ada hubungannya dengan seseorang yang sering
kujumpai di kantor. Ialah Bima, seorang karyawan di kantor tempatku bekerja.
Aku sangat mengaguminya dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya terlebih saat meeting
berlangsung, ia selalu memberi saran-saran luar biasa terhadap permasalahan
yang ada.
Aku
mempercepat langkahku menuju ruang kerjaku. Pukul 08.10 aku duduk bernafas lega
di ruangan kerjaku yang berukuran 4 x 3 m itu. Yahh..aku telat 10 menit memasuki
kantor. Ada perasaan kurang nyaman saat semua orang sudah memulai aktivitas di
kantor dan aku tergopoh-gopoh memasuki ruanganku. Setumpuk kerjaan telah
menantiku di balik kertas-kertas itu. Aku bekerja sebagai staf keuangan
mengurusi masalah penanganan gaji yang akan diberikan kepada karyawan nantinya.
Waktu
menunjukkan pukul 12.30, aku keluar dari ruanganku untuk sejenak mengisi perut
yang kosong ini. “Ren, mau kemana?” Tanya Bima yang tiba-tiba muncul
dibelakangku. “Oh..ini mau ke warung makan sebelah”, kataku cepat. “Kita
barengan aja” tanggap Bima. Kami pun keluar dari ruangan itu beriringan menuju
warung makan sebelah kantor. Kami pun berbincang-bincang seputar masalah kantor
dan sedikit bercerita pribadi masing-masing.
******
Kembali
kutermenung di sudut kamarku dan senyum-senyum sendiri tak karuan. Aku
merasakan getaran aneh ketika Bima mengajakku makan siang bersama. Bercerita
lepas seakan ku memiliki tempat curhat yang aman tuk menumpahkan unek-unekku. Mataku
tak dapat menatapnya saat kedua bola mata kami bertemu. Aku takut dia bisa
membaca pikiranku saat mataku menatapnya. Yahh…harus kuakui kalau aku memang
tertarik kepadanya. Aku seakan merasakan kembali sebuah rasa yang pernah
kurasakan dua tahun sebelumnya saat aku jatuh cinta kepada mantanku yang lalu.
Rasa itu kini kembali hadir setelah hatiku merasakan kehampaan yang cukup lama.
Aku juga heran ternyata aku masih bisa merasakannya. Padahal aku tak
yakin kalau aku bisa jatuh cinta lagi setelah sekian lama ku tak menjalin
hubungan dengan seseorang. Pertemuanku di kantor yang hanya sekadar melihatnya
sudah cukup bagiku. Asalkan dalam sehari kubisa melihatnya itu sudah cukup.
Aku
berjalan menelusuri lorong kantor sore itu. Kembali aku dipertemukan dengan
sepasang bola mata yang sudah tidak asing bagiku. Kami berpapasan di lorong
kantor itu. Ia tersenyum kepadaku. Aku
pun balik membalas senyuman itu sambil memperhatikan bola mata itu.
Deg…deg…deg….Desiran aneh menjalar disekujur tubuhku. Ia berlalu dari
hadapanku, tapi jantungku masih terasa cepat.
Suatu
hari, aku bertanya kepada diriku sendiri, “apakah dia merasakan hal yang sama dengan apa
yang kurasakan?”. Semoga saja sehingga cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
Hati ini sudah terlanjur mencintai, ibarat akar pohon sudah menjalar sampai
kedalam-dalamnya. Siang malam bayangan wajahnya melintasi benakku. Apapun
yang kulakukan seakan ada suara kecilnya yang membisikkanku untuk memberi
semangat. Aku pun semakin termotivasi dalam melakukan apapun.
Untuk
kedua kalinya kami makan bersama, tapi
saat ini kami tidak barengan memasuki warung makan, hanya kebetulan
ketika dia masuk, mungkin melihatku sehingga menghampiriku dan kami makan
bersama. Semakin tampak salah tingkahku dihadapannya. Kulihat dari mimik
wajahnya, tampaknya dia biasa saja menanggapiku. Satu hal yang selalu membuatku
ke-GR-an ketika dia menatapku. Tatapannya itu seakan menyimpan sejuta makna
yang sulit kutebak. Sepertinya tatapannya itu bercerita kepadaku tentang suatu
hal.
Bima
Prasetya Nugraha, nama yang bagus untuk dicantumkan di undangan pernikahan. Ya
Allah…pikiranku sudah terlalu melayang jauh dan sulit tuk dikendalikan. Seorang
Rena jatuh cinta kepada cowok cerdas, putih, berlesung pipi dan berbola mata
yang menyimpan sejuta rahasia. “Aduh, gimana caranya mengurangi rasa ini
sehingga tidak melampaui batas.
Saat
kisahku ini kuceritakan kepada seorang sahabatku Wina, ia menyuruhku tuk
mengungkapkan perasaanku duluan terhadapnya. “Sekarang cewek sama cowok sama
derajatnya, perempuan juga berhak untuk mengungkakan cinta duluan. Itu sudah
lumrah terjadi, gumam Wina menasihati”. “Sontak aku menolak keras. Tidak ada
dalam kamusku cewek menyatakan cinta ke cowok”, ungkap aku kepada Wina spontan.
“Ya..sudah, kamu pelihara saja rasa mu itu dalam hati”, kata Wina cuek. Aku pun
hanya terdiam membisu mendengar perkataan Wina.
******
Tergopoh-gopoh
aku memasuki ruangan kantor, angkot yang kutumpangi tadi sibuk mencari
penumpang sehingga aku terlambat lagi masuk kantor. Ketika berjalan cepat
menelusuri lorong kantor itu, tiba-tiba…gubraaaakkk, sekonyong-konyong
kuterjatuh, dan merasakan sakit yang taramat pada bagian pinggul. Segera kuperbaiki
posisiku dan menengadah keatas, saat itu
sebuah uluran tangan menyambutku. Tangan berkulit putih yang dihiasi jam tangan
hitam dipergelangannya. Ya..ternyata tadi aku menabrak Bima, cowok yang
membuatku susah tidur akhir-akhir ini, tetapi dia bisa mengendalikan dirinya
sehinggan tidak ikut terjatuh.
“Sini
aku bantu” katanya sigap. Aku yang tak berdaya apa-apa saat itu langsung
menerima pertolongannya. Saat dia memegang tanganku untuk membantu, aku
merasakan getaran ditubuhku yang begitu hebat. “Mungkinkah dia merasakan
getarannya?” ucapku membatin. Segera kujernihkan pikiranku. Dia menyuruhku
untuk istirahat di tempat kerjaku. Dia mengantarku sampai di tempat kerjaku dan
meninggalkanku saat aku sudah merasa baikan. “Maaf yah, tadi aku buru-buru jadinya
menabrak kamu”, kataku pelan. “Oh..tidak apa-apa” kata Bima. “Oh ya, terima
kasih sudah menolongku tadi, padahal aku sudah menabrak kamu. Bima hanya
tersenyum mendengarku mengucapkan itu. Ia pun pamit dan berlalu menuju meja
kerjanya.
Tuhan,
terima kasih atas insiden kecil tadi yang membuatku bisa berlama-lama melihat
Bima walaupun dalam kondisi yang kurang nyaman. Wah, Bima memang lelaki
sempurna, sudah cerdas, ganteng, baik hati lagi. Beruntung banget orang yang
mendapatkannya. Setelah agak baikan, akupun kembali mengerjakan tugas-tugas
kantor yang sedikit terbengkalai.
Sore
hari setelah pulang kantor, aku segera mengambil angkot dan kembali ke rumah.
Aku masih terngiang-ngiang peristiwa siang tadi yang merupakan anugrah bagiku.
Ditolong sama Bima dan menghabiskan waktu sejam lebih bersamanya sungguh terasa
indah.
“Hari
ini adalah hari kebebasanku” kataku setengah berteriak. Hari minggu memang
menjadi hari yang ditunggu-tunggu para pekerja untuk sejenak me-refresh pikiran dari penatnya kerjaan selama
seminggu. Aku berencana ke toko buku, membeli novel atau sekedar cerita lelucon
pengobat stress karena kerjaan. Aku pun bersiap-siap ke toko buku hari ini.
Ada
beberapa buku yang memikat hatiku. Aku pun memilih buku-buku yang ingin kubeli.
Sambil sibuk mencari buku, mataku tiba-tiba tertuju pada sosok pria putih
berlesung pipi. Setelah arahnya semakin dekat, aku yakin 100 % kalau dia Bima. Tetapi kali ini kulihat dia bersama seorang gadis
yang parasnya lumayan cantik. Aku semakin memertajam penglihatanku. Yaa…tidak
salah lagi dia Bima rekan kerjaku. Aku mulai syok melihat ada seseorang
bersamanya. “mungkin saja itu adik atau sepupunya” pikirku dalam hati untuk
menenangkan diriku sendiri.
Aku
berniat untuk menghampirinya sekedar menyapa. Aku pun berjalan kearahnya sambil
membawa buku yang ingin kubeli. “Hai Bima” ucapku santai. Ia pun membalas
dengan mengatakan hai. “Oh…ya, hampir lupa, kenalin ini Putri, pacar aku” kata
Bima. Putri tersenyum sambil menjabat tanganku dan berkata “aku
Putri”, “aku Rena, teman kerjanya Bima”. Seketika itu Aku seakan dihujam
keputusasaan yang mendalam ketika mendengar Bima memperkenalkan Putri sebagai
pacarnya.
******
Sinar
rembulan yang begitu indahnya tak seindah suasana hati Rena malam ini. Rena
duduk di teras rumahnya memandangi ribuan bintang di bawah temaram sinar
rembulan. Pandangannya lurus keatas, entah melihat bintang atau memikirkan
sesuatu. Sesaat ia menitikkan air mata dan tersenyum.
“Terima kasih Tuhan
engkau telah menitipkan rasa ini kepadaku sehingga aku mengerti makna cinta itu, ada variasi bentuk rasa yang kau titipkan kepada setiap umat-Mu dan aku
sudah merasakan hal itu. Terkadang cinta memang tak harus memiliki. Biarlah
kusimpan rasa ini sendiri dan kan kujaga untukmu Bima tersayang.
Komentar
Posting Komentar