Cinta yang Sempurna


Holaaaaaa...masih Februari dong yaaa...

Banyak yang mengatakan bahwa Februari adalah bulan cinta bertabur kasih sayang. Betul gak? Hemmm...bisa jadi...bisa jadi...walaupun sebenarnya cinta itu bukan cuma diekspresikan di bulan ini saja, setiap hari bahkan setiap saat kita bisa mengekspresikan rasa cinta itu. Cinta kepada sang Pencipta dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, cinta kepada kedua orang tua dengan berbakti kepadanya, cinta kepada keluarga, pasangan, teman, dan kerabat-kerabat lainnya. 

Kita bisa mengekspresikan cinta setiap saat dengan sederhana tapi bermakna pada orang-orang tersayang. Kalau ada yang bertanya seperti apakah itu? Yaa...setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mengekspresikan cinta mereka. Bisa dengan membuatnya selalu tersenyum, memberikan hadiah di hari-hari istimewa, ataupun membantu kesulitannya. Tidak hanya di bulan ini apalagi terkhusus pada 14 Februari saja yang sebagian menyebutnya Valentine Day.

Disini saya bukan mau membahas mengenai valentine day dan segala (pro-kontra) nya. Itu sih terserah pribadi masing-masing. Yang jelasnya jangan asal ikut-ikutan saja karena alasan mau dibilang keren atau apalah. Tapi berbuatlah karena  memiliki nilai manfaat yang lebih besar. 

Disini saya hanya ingin bercerita sedikit tentang cinta walaupun saya sendiri tidak bisa memberikan definisi yang pasti mengenai apa itu cinta. Mungkin kalian lebih hebat dalam mendefinisikan arti  cinta itu sendiri tapi kalau saya ditanya mengenai apa itu cinta saya hanya bisa memberi jawaban bahwa cinta itu adalah sebentuk rasa yang didalamnya ada sikap rela berkorban, hehee. Menurut kalian? 

Saya juga bukan pujangga yang pandai merangkai kata-kata indah tentang cinta. Namun saya akan share sebuah cerita cinta yang menurut saya keren, so inspiring and touching yang terjadi di zaman Nabi.

Let's read it...

Ketika Rasulullah berada di hadapan, Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala. Tahukah kalian apa yang terjelma? Cinta!  (Abu Bakar Shiddiq r.a.)

Gua Tsur

Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.
“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sedungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat disampingnya, keselamatan diatas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghujam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, Muhammad, ya Muhammad..mereka membunuh Muhammad.
Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu didepannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.

Sejeda kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya dipangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh dikening Rasulullah. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam hatinya "Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya".

Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah. Mendung di wajah Abu Bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar dikedalaman hatinya, begitu semerbak. "Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada disampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun mengganggumu".

Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin ia tega membangunkan kekasih itu.

Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.

"Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini" suara Rasulullah memenuhi udara Gua.
"Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun" potong  Abu Bakar masih dalam kesakitan.
"Lalu mengapakah engkau meluruhkan air mata?"
"Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat"

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak "Mengapa engkau tidak menghindarinya?"
"Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap" jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena ia tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.

Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang dipelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah. "Sungguh bahagia aku memiliki seorang sepertimu, wahai putra Abu Quhafah. Allah sebaik-baik pemberi balasan" jawab Rasulullah. Tak berapa lama Al-Musthafa meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu hilang. 

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

(sumber : eramuslim)

Gimana ceritanya...??? keren ya?
Sungguh cinta yang sempurna Ash Shiddiq untuk Al Musthafa...
Okeeyyy sekian dulu yaaa...Met hari Jumat, semoga segala aktivitas kita berberkah..amiiinnn...

Komentar

  1. Meskipun cintaku tak se sempurna cinta Abu Bakar, yang Penting Rasul ridho.. Aamiin. Kisah yang menarik.. Salam kenal dan salam silaturahmi dari Parepare :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiinnnn...salam kenal dan salam silaturahim jugaa :)

      Hapus

Posting Komentar